Sri Mulyani = SPG ?

Sempat ada gosip beredar belum lama ini tentang Sri Mulyani yang di antaranya dimuat di INILAH.COM, Selasa, 1 Februari 2011. Gosip itu menyatakan S adalah SPG (sales promotion girl) IMF. Beberapa tanggapan yang membantah gosip itu dikemukakan beberapa pihak. Salah satunya dari Pande Radja Silalahi, ekonom senior CSIS yang dikutip INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (2/2/11), “”Kok ada tuduhan seperti itu. Saya yakin, pinjaman IMF (International Monetary Fund) sangat jelas aturan mainnya. Secara teoritis, tuduhan itu tidak masuk akal. Saya melihatnya jauh dari akal.”

Tanggapan lain yang terkait isu tuduhan bahwa SMI adalah “SPG IMF”, dikemukakan oleh Grig Rasp. Catatan kritis dari Rasp ini membawa kita kepada pemahaman bahwa pernyataan Justiani/Liem Siok Lan menjadi tidak masuk akal dan tidak sesuai kenyataan. Ada 11 pertanyaan diajukan oleh Rasp untuk mengklarifikasi tuduhan itu yang langsung dijawab dengan jelas dan ringkas. Jelas dan ringkasnya jawaban itu bisa jadi indikasi lemahnya tuduhan terhadap mantan Menteri Keuangan RI yang di tahun 2008 pernah dipilih oleh majalah Forbes sebagai salah satu perempuan yang berpengaruh di dunia itu.

Berikut kami muat tanggapan dari Grig Rasp dengan sedikit perapihan cara penulisan dan memperpanjang singkatan-singkatan kata.

Benarkah Sri Mulyani SPG-nya IMF?

Justiani/Liem Siok Lan yang mengaku Penasihat Thaksin (PM Thailand) menyatakan: “Sri Mulyani jadi sales promotion girl-nya IMF, karena mendapat fee 1 persen dari setiap pinjaman. Jadi, jangan heran, kalau ekonomi kita terus ditentukan pihak asing.”

Pertanyaan-1: “Sejak kapan Sri Mulyani menjadi SPG-nya IMF?”

– Kerjasama RI-IMF dimulai sejak tahun 1962 kebetulan Sri Mulyani lahir tahun 1962;

– Mengingat hari kelahiran Sri Mulyani, IMF tidak mungkin memilih bayi yang baru lahir sebagai SPG-nya, maka:

Pertanyaan-2: “Siapakah SPG-nya IMF dari tahun 1963-1965?” (Masa Presiden Soekarno?)

Pertanyaan-3: “Siapakah SPG-nya IMF dari tahun 1966-1996 (Masa Orba-sebelum krismon)?”

Mengingat, inilah sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu:

* Asisten Pengajar FEUI; 1985-1986

* Pengajar Program S1, Extension FEUI, S2, S3, MM-UI; 1986-Sekarang

* Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA; 1990-1992

* Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS; 1994-1995

* Anggota Kelompok Kerja–GATS Depkeu-RI; 1995

* Anggota Pokja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan–BKKBN; 1995

* Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN; Mei-Desember 1995

Pertanyaan-4: “Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 10,14 Miliar?”

– Perjanjian itu utamanya ditandatangani oleh Presiden Soeharto.

– Perjanjian itu sebagai akibat salah penanganan krisis moneter tahun 1997.

– Penandatangan LoI ke-I adalah Menkeu Mari’e Muhammad dan Gubernur BI Soedrajat Djiwandono.

– Sementara, sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu:

* Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI; Mei 1995-Juni 1998

* Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI; 1996-Maret 1999

* Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI); 1996-2000

Pertanyaan-5: “Siapakah SPG lain; Bank Dunia, IGGI, CGI, Paris Club, ADB, dll saat itu?”

– Sampai dengan tahun 1996, total utang: US$ 136 Miliar (Pemerintah; US$ 54 Miliar + Swasta US$ 82 Miliar).

– Periode1997-2000, total utang: US$ 207 Miliar (Pemerintah: US$ 140 Miliar + Swasta: US$ 67Miliar)

– 1% dari US$ 207 Miliar = US$ 2,07 Miliar (setara Rp 20,7 Triliun dgn kurs Rp 10.000/US$)

– Lagi, sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu (1997-2000):

* Nara Sumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum-Departemen Kehakiman RI; Agustus 1998-Maret 1999

* Kepala LPEM FEUI; Juni 1998-2001

* Dewan Ekonomi Nasional; 1999-2001

Pertanyaan-6: “Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 5,3 Miliar?”

– Ditandatangani 20 Januari 2000 (Pemerintahan alm. Gus Dur-Megawati SP);

– Penandatangan melibatkan: Menko Ekuin Kwik Kian Gie, Menkeu Bambang Sudibyo, Gubernur BI Syahril Sabirin.

– Alasan penandatanganan (perpanjangan kontrak kerjasama dgn IMF hingga Desember 2002) adalah:

* Perpanjangan tersebut diperlukan karena pemerintah RI telah mengembangkan program ekonomi baru yang disusun oleh pemerintah demokratis pertama hasil pilihan parlemen;

* Program ekonomi tersebut didesain sejalan dengan agenda reformasi ekonomi dan pembangunan yang didasarkan pada keadilan sosial dan tata pemerintahan yang baik.

Pertanyaan-7: “Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 4,5 Miliar?”

– Ditandatangani 13 Desember 2001 (Pemerintahan Megawati SP–Hamzah Haz);

– Penandatangan melibatkan: Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menkeu Boediono dan Gubernur BI Syahril Sabirin;

– Alasan penandatanganan (perpanjangan kontrak kerjasama dgn IMF hingga Desember 2003) adalah;

* Untuk menyelesaikan beberapa target yang belum terpenuhi pada Oktober dan Desember 2001;

* Termasuk, kriteria kinerja struktural dalam kaji ulang masalah anggaran dan penuntasan masalah BLBI (Pembahasan masalah BLBI ditunda hingga akhir Maret 2002 untuk memberikan keleluasaan waktu untuk menyelesaikan isu penting dan sensitif ini yang bisa diterima oleh semua pihak, termasuk anggota DPR-RI);

* Rencana perpanjangan kontrak RI-IMF ini juga telah dibahas dan disepakati dengan Panitia Anggaran DPR dalam rapat kerja pembicaraan tingkat III/pembahasan RUU-APBN tahun anggaran 2002 -pada Oktober 2001);

* Rencana perpanjangan kontrak RI-IMF ini juga sudah dibahas dalam Sidang Kabinet 19 November 2001.

– Terkait pertanyaan 6 & 7, sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu (2000-2002):

* Konsultan USAid di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat; 2001-2002

– United States Agency for International Development (USAID) adalah sebuah lembaga pemerintah federal Amerika Serikat yang bersifat independen

– Misinya adalah mengelola bantuan kemanusiaan dan ekonomi bagi negara-negara asing

– LSM yang berminat dapat mengajukan permohonan bantuan dana dengan membuat proposal proyek sesuai dengan format yang telah ditentukan

– Lengkapnya disini: http://www.lp3es.or.id/direktori/fund/usaid.htm

* Seperti biasa, namanya “Produk Neolib”, ada catatan miring tentang USAID disini:

* Sejak Amerika dan Indonesia menandatangani kerjasama perjanjian kerja sama ekonomi pada 1950, Amerika melalui USAID telah memberikan bantuan dana sebesar US$ 80 juta untuk bidang umum dan US$ 67 juta untuk membantu perbaikan akibat perang di Indonesia.
* Akhir 1960, misi USAID di Indonesia adalah untuk membantu pemerintah mengatasi masalah perkembangan penduduk di Indoensia yang semakin meningkat

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1167&type=2 http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1172&type=2

Pertanyaan-8: “Berapakah besarnya ‘honor’ yang diterima Sri Mulyani ketika resmi tercatat sebagai ‘SPG-nya’ IMF?”

– Sri Mulyani tercatat resmi sebagai Direktur Eksekutif IMF periode November 2002 – Oktober 2004.

– Tugasnya adalah pengambil keputusan (to execute) yg menentukan berbagai program dan keputusan (action) yg harus diambil IMF (terkait 12 Negara Asia Tenggara–termasuk Indonesia).

– Hubungan antara RI-IMF periode tersebut (Nov 2002 – Okt 2004) adalah:

* RI memutuskan untuk tidak melanjutkan program bantuan IMF;

* RI mengumumkan akan membayar sisa utang IMF (US$ 8,47 Miliar, yaitu sisa dari total US$ 13,26 Miliar; pencairan pasca krismon th 1997 + perpanjangannya).

– Mengapa RI memutuskan untuk ‘memaksakan diri’ melunasi US$ 8,47 Miliar utang IMF pada saat itu?

* Dengan RI tidak membutuhkan pinjaman IMF lagi, maka hubungan RI-IMF kembali normal seperti sebelum krisis (1997);

* Namun dengan masih adanya sisa utang RI ke IMF maka RI masih tetap harus melakukan dialog pascaprogram IMF menyangkut kebijakan reformasi ekonomi.

Pertanyaan-9: “Berapakah besarnya ‘honor’ yang diterima Sri Mulyani ketika resmi tercatat sebagai ‘SPG-nya’ IMF (Jilid II – 2007)?”

– Tahun 2007 Sri Mulyani Indrawati ditunjuk menjadi salah satu anggota komite reformasi internal IMF.

– Saat itu Sri Mulyani sedang menjabat sebagai Menteri Keuangan.

– Setahun sebelumnya (Juni dan Oktober 2006) Indonesia melunasi utang dan keluar dari “cengkeraman” IMF.

– Sisi lain peran Sri Mulyani yg jarang/tidak pernah diungkap para ekonom “anti neolib” adalah:

* Mungkin benar bahwa keberadaan IMF itu ‘menghantui’ setiap kebijakan ekonomi Indonesia, makanya RI (dengan Menkeu Pak Boediono saat itu) ingin segera melunasi utang IMF dan segera keluar dari “bayang-bayang” IMF;

* Maka pada Agustus 2003 RI “mengajukan proposal” untuk keluar dari “intervensi” IMF dengan cara memutuskan akan melunasi utangnya; dan secara logika, pilihan IMF adalah:

* mempersulit “proposal pelunasan utang” tersebut agar dapat tetap “menghantui Indonesia;
* menyetujui “proposal pelunasan utang” tersebut agar Indonesia bebas dari “cengkeraman” IMF.

* Apakah keputusan yg diambil IMF terkait proposal yg diajukan oleh RI tersebut? MENYETUJUINYA.

* Siapakah pejabat IMF yg berwenang atas keputusan terhadap Negara-negara di Asia Tenggara? SRI MULYANI

Pertanyaan selanjutnya, jika memang Sri Mulyani mendapat keuntungan (1% atas utang Indonesia dan menginginkan perekonomian Indonesia tetap dalam cengkeraman IMF), kenapa keputusan yang diambilnya (menyetujui program pelunasan utang RI ke IMF) malah merugikan/tidak sejalan dengan kepentingan pribadinya itu? TOLONG DIJAWAB DENGAN LOGIKA dan AKAL SEHAT

– Persamaan dan Perbedaan antara “ekonom neolib” (sampel: Boediono dan Sri Mulyani) VS “ekonom anti neolib” (sampel: Kwik Kian Gie & Rizal Ramli):

* Persamaannya, ketika menjabat sebagai Menkeu/Menko Ekonomi, keempatnya sama-sama menandatangani perjanjian dengan pihak Bank Dunia, IMF, dan “lembaga neolib” lainnya

* Perbedaannya, yang paling nyata adalah:

– Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli sering meneriakkan “anti IMF”, “tolak IMF”, “hindari IMF”, sambil menandatangani perjanjian utang antara RI-IMF, bahkan mengajuan proposal utang baru.

– Boediono tidak pernah meneriakkan yel-yel tersebut, bahkan dituding sebagai biangnya IMF, tapi di masa beliau sebagai Menkeu, keputusan untuk tidak melanjutkan program dengan IMF dibuat.

– Sri Mulyani tidak pernah meneriakkan yel-yel tersebut, bahkan dituding sebagai biangnya IMF, tapi di masa beliau sebagai Menkeu, pelunasan utang IMF dipercepat–dari jadwal 2010 menjadi 2006.

Pertanyaannya sekarang: Kita lebih pilih percaya mana? SEBATAS KALIMAT RETORIKA atau SEBUAH KARYA NYATA?

***

Kesimpulan sementara:

Sulit untuk menemukan “kesesuaian” antara proses “negosiasi” pinjaman (penandatanganan LoI) yang bertepatan dengan jabatan/posisi Sri Mulyani di IMF. Yang ada justru “kebetulan” tepatnya waktu ketika proses keputusan penghentian program IMF (saat Sri Mulyani sebagai pengambil keputusan di IMF) dan proses pelunasan utang IMF (saat Sri Mulyani menjabat sebagai Menkeu).

***

Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo (Golkar) menyatakan:

“Dia jelas diduga mendapatkan keuntungan dari perannya sebagai SPG IMF, mengingat SMI-lah yang menentukan volume pinjaman, meminjam dari siapa dan tentu saja tingkat bunga.”

Jika benar mulut Bambang Soesatyo itu bisa dipegang (Sri Mulyani adalah SPG-nya IMF), maka:

1. Betapa payahnya para pemimpin Indonesia periode (1997-2002). Betapa tidak, siapapun rasanya tahu bagaimana cara kerja seorang SPG ketika menawarkan produk jualannya, kewenangan akhir (untuk membeli/tidak membeli) tetap ada pada konsumen kan?

Dengan mengatakan bahwa para pemimpin Indonesia (Presiden + Kabinetnya + DPR) seolah tidak ada pilihan lain buat menerima tawaran dari “SPG-nya IMF” tersebut, selain menunjukkan betapa payahnya mereka, sekaligus menunjukkan betapa besarnya pengaruh seorang Sri Mulyani pada waktu itu, padahal, apakah jabatan Sri Mulyani saat itu? (Baca di atas) Di luar struktur kabinet ataupun struktur IMF.

2. Keganjilan lainnya, posisi SPG adalah mewakili “pihak produsen” dan bukanlah dari “pihak konsumen”. Anggaplah hal itu benar (bahwa Sri Mulyani memang SPG-nya IMF), lalu:

– Kenapa IMF menyewa SPG dari luar strukturnya?

– Jika pun harus, kenapa yang dipilih Sri Mulyani? (Bukannya salah satu pejabat Indonesia saja?) Padahal jika dilihat dan dibandingkan “bargaining power” yang dimiliki oleh RI dan IMF, maka daya tawar yang besar justru ada di pihak IMF. Buktinya? Saat ingin melunasi utangnya pun, Indonesia meminta jadwal dan baru terlaksana tiga tahun kemudian.

3. Sekali lagi, katakanlah fee 1% dari IMF buat Sri Mulyani itu benar. Persoalannya, dana untuk fee itu diambil dari mana?

* Diambil dari dana pencairan yang diterima Indonesia?

Sekali lagi–maaf–betapa bodohnya para pemimpin dan pejabat keuangan Indonesia waktu itu. Bagaimana tidak, utang IMF yang dinanti-nantikan (saat itu beberapa kali ditunda IMF dan “dijemput” pihak Indonesia), kok sekalinya datang ke Indonesia cuma pasrah saja ketika dipotong 1% untuk Sri Mulyani? Dan kejadian itu tidak menimbulkan “kehebohan” saat itu? Bagaimana dengan audit BPK–saat itu–atas penggunaan dana pinjaman itu? Terlalu banyak keganjilan rasanya.

* Diberikan dari pihak IMF (sebagai fee)?

Jika SPG yang di luar struktur saja dapat bagian 1%, berapa bagian untuk Sales Promotion Head di IMF? Bagian untuk pejabat-pejabat IMF lainnya (yang pastinya lebih besar)? Apa tidak bangkrut itu IMF?

Betapa tidak canggihnya organisasi yang bernama IMF itu, bahkan untuk menyalurkan kreditnya, mereka memerlukan jasa (dengan biaya 1% dari utang) yang berasal dari luar struktur resmi IMF sendiri dan struktur resmi negara peminjamnya. (Pastinya jika benar di tiap negara peminjamnya IMF punya SPG masing-masing, kan?)

Betapa bodohnya lembaga yang bernama IMF itu, menyerah di tangan pihak SPG-nya sendiri. Masalahnya, kalau IMF lembaga yang bodoh, dan saat itu Indonesia begitu sulitnya melepaskan diri dari “cengkeraman” IMF, lantas, apa julukan bagi Indonesia?

4. Mungkinkah ini yg dimaksud ini?

http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/keuangan/20295/BI-Dana-IMF-untuk-Berjaga-jaga: “Bantuan IMF senilai US$ 2,7 miliar itu dijadwalkan cair pada Jumat (28/8) dan awal September 2009. Dana tersebut merupakan bagian dari likuiditas global senilai US$ 250 miliar yang digelontorkan IMF untuk 186 anggotanya. Indonesia sendiri akan membayar biaya administrasi 0,01% setahun. Pencairan likuiditas kali ini tanpa embel-embel program ekonomi kepada negara penerima.”

Ada juga pendapat ini

http://bisnis.vivanews.com/news/read/70361-paranoid_dengan_imf__indonesia_akan_menyesal:

“Pengamat Ekonomi dan Chairman Global Nexus Institute, Christianto Wibisono “Kalau terlalu paranoid terhadap IMF, RI akan menyesal. Sebab, peran IMF itu nanti akan berubah sampai 2011.”

“Karena terlalu takut IMF, kita malah pinjam dari pasar global dengan bunga 11,75 persen atau 4 kali lebih mahal dari pinjaman IMF.”

5. Klarifikasi tentang sosok Justiani/Liem Siok Lan:

– Mengaku sebagai penasihat Thaksin (PM Thailand). Tentunya ketika ada seorang Rakyat Indonesia yg menjadi penasihat Perdana Menteri Negara lain akan terkenal (minimal ada “jejaknya” di Google). Hasil penelusuran di Google sejauh ini Cuma menemukan ini:

http://robitoh.wordpress.com/2008/09/21/sekilas-tentang-liem-siok-lan/

– Nama resmi (menurut dokumen) JUSTIANI. Alumni Teknik Informatika ITB angkatan 1981

– 2002: President/CEO SMarT (Sistem Mandiri Terintegrasi) yang dibentuk atas restu Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi dan dukungan Dirjen PU, Junius Hutabarat, untuk melakukan “corporate restructuring” BUMN dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi serta rekayasan keuangan global.

SMarT kemudian berkolaborasi dengan Constantius Funds Asia Pacific (CFAP) Canada, Decagon Co. Ltd. Seattle USA, membantu corporate restructuring dalam kerangka Thailand Incorporated sampai dengan awal 2006.

Mungkinkah itu maksudnya? Entahlah, pilihannya ada dua:

– Menanyakannya langsung kepada Justiani tsb, atau

– Menanyakannya kepada Thaksin (mudah-mudahan mengenalnya).

***

Terakhir:

Sebenarnya malas nulis-nulis/menanggapi masalah seperti ini tapi mengingat yang melontarkan tudingan adalah sekelas penasihat Perdana Menteri, tak ada salahnya sedikit berkomentar:

Agar komentar ini terlihat sedikit serius, disertakan link data;

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=360244997

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6877602

Theo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s