Singapura meminta Indonesia untuk mengekspor produk-produk hortikultura

Apabila nantinya Indonesia mampu menghasilkan surplus, produk hortikultura seharusnya diolah dahulu supaya memiliki nilai tambah.

PROSPEK cerah menanti produk hortikultura nasional di tahun ini. Singapura meminta Indonesia untuk mengekspor produk-produk hortikultura dalam jumlah tidak terbatas, baik sayuran maupun buah-buahan.
“Dengan adanya kesepakatan Indonesia untuk mengekspor produk hortikultura sejumlah tak terbatas ke Singapura, potensi ekspor produk hortikultura kita bisa meningkat hingga 30% dari sekarang yang hanya

6%,” kata Direktur Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian (Kementan) Zaenal Bachrudin ketika dihubungi, pekan lalu.
Meningkatnya jumlah ekspor Indonesia disebabkan pembatasan ekspor hortikultura yang dilakukan China terhadap Singapura itu sendiri. Selain itu, Indonesia dipilih Singapura berdasarkan pertimbangan kedekatan geografis sehingga kesegaran produk hortikultura yang memang cepat busuk bisa terjaga.

Dalam enam tahun terakhir, Indonesia mengekspor sedikitnya 10 produk utama hortikultura ke `Negeri Si nga’.
Komoditas hortikultura itu meliputi kubis, nanas, kentang, polong-polongan, cabai merah, bawang merah, jamur dan cendawan jamur, selada, sayuran, dan buah lainnya.

“Mereka (Singapura) paling meminati kubis, juga tertarik mengimpor cabai, kentang, dan buah-buahan seperti avokad,” kata Direktur Pemasaran Internasional Direktorat P2HP Ke mentan Mesah Tarigan kepada Media Indonesia saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun, selama enam tahun terakhir ekspor hortikultura Indonesia ke Singapura terus menurun. Pada 2005, Indonesia mengekspor 59,4 juta kg produk hortikultura dan pada 2009 tinggal 34,5 juta kg.

Secara akumulatif, sepanjang 2005-2009 volume ekspor hortikultura RI ke Singapura turun 12,5% dengan penurunan nilai ekspor 3,8%.

Mesah berharap kerja sama peningkatan ekspor hortikultura dengan Singapura akan mampu membantu menyeimbangkan neraca perdagangan hortikultura RI yang masih negatif.

Impor produk hortikultura Indonesia ke berbagai negara masih tiga kali lipat lebih banyak ketimbang ekspor. Pada 2009, Indonesia mengekspor 396,8 juta kg produk hortikultura.

Adapun nilai impor hortikultura sepanjang tahun itu mencapai 1,3 miliar kg. Impor terbesar dari tahun ke tahun ialah bawang putih, sedangkan

volume ekspor terbesar (pada 2010 hingga Agustus) ialah nanas.
Utamakan domestik Saat menanggapi upaya menggenjot ekspor hortikultura ke Singapura, Serikat Petani Indonesia (SPI) menilainya sebagai target yang mengawang-awang. Pasalnya, pemerintah seharusnya lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, baru berorientasi ekspor. “Pemenuhan kebutuhan dalam negeri saja belum cukup.
Jangan berpikir untuk ekspor dululah,” kata Ketua Umum SPI Henry Saragih.

Ia juga menekankan bila nantinya RI mampu menghasilkan surplus, produk hortikultura seharusnya diolah terlebih dulu supaya memiliki nilai tambah.

“Singapura kan juga mengimpor besar-besaran untuk diolah kembali kemudian hasil olahan diekspor ke negara lain,” cetus Henry. Theo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s