Andriansyah, Sang Pendiri Kojo Anima

Andriansyah amat optimistis, suatu saat masa kemajuan animasi dalam negeri akan tiba. Maka, pendiri Kojo Anima itu tetap semangat membuat film animasi lokal. Tidak peduli film animasi produksi dalam negeri kini belum begitu diminati televisi nasional, ia tetap berkarya.

Lulusan Jurusan Manajemen Konstruksi Fakultas Arsitektur California State University, Amerika Serikat, itu sekembalinya ke Indonesia tahun 1998 sempat menjalankan bisnis mebel. Ia lalu diajak temannya membuat usaha pembuatan film animasi.

Tahun 2004 Kojo Anima pun didirikan. Kini Andriansyah bisa mempekerjakan 15 pegawai tetap dan 10 karyawan tak tetap. Lebih dari 150 episode sudah dihasilkan. Jumlah itu terdiri dari empat seri, yakni Kuci (39 episode masing-masing 30 menit), Zeby (73 episode, 15 menit), Tora-Tori (26 episode, 6 menit), dan Pempek Family (13 episode, 6 menit).

Pembuatan setiap episode membutuhkan waktu 2-3 bulan. Karya-karya itu belum termasuk Petualangan Khatulistiwa dan Bolaria. “Kalau dua seri terakhir itu, saya baru membuat potongan filmnya. Petualangan Khatulistiwa juga sudah siap 26 naskah,” ujarnya.

Keprihatinan Andriansyah terhadap film-film animasi asing yang minus aspek pendidikan dan budaya lokal membuatnya bertekad membuat karya berbeda. Karena itu, dalam setiap episode ia selalu menyertakan materi edukasi dan kebudayaan lokal. Petualangan Khatulistiwa, misalnya, mengisahkan seorang anak Flores bernama Luku dan komodo bernama Naga.

“Jika ditayangkan, film sekaligus bisa menjadi media promosi Pulau Komodo. Sementara Kuci menceritakan seekor kumbang kecil yang selalu berbuat baik,” katanya.

Film-film buatan Kojo Anima sudah ditayangkan lebih dari 30 televisi lokal, mulai Sumatera, Batam, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. Sayang, angan-angan Andriansyah untuk menayangkan karyanya di televisi nasional belum terwujud.

“Pihak televisi nasional belum sepakat soal biaya. Padahal, produksi film buatan Kojo Anima termasuk murah,” katanya. Dana untuk membuat film Rp 30 juta-Rp 50 juta per episode berdurasi 30 menit. Biaya itu dirogoh dari kocek Andriansyah sendiri untuk produksi awal meski belum tentu ada stasiun televisi yang tertarik.

Adapun biaya produksi film baru di negara-negara maju bisa mencapai Rp 500 juta per episode. Sementara film-film animasi yang sudah pernah ditayangkan televisi asing ditawarkan dengan harga hanya Rp 2,7 juta-Rp 13,5 juta per episode.

“Ini proyek idealis, tapi yang penting kami mendapatkan proses belajarnya. Semakin lama kami bertambah solid. Film yang dihasilkan sudah banyak,” kata Andriansyah. Ia bermimpi, suatu hari film seperti Upin & Ipin, tetapi dengan tokoh, budaya, dan bahasa lokal bisa disukai penonton televisi di dalam neger Theo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s