Keajaiban Operasi Plastik

DARI seorang teman, Ny. Sri Sulastri Subandi mengetahui “keajaiban” operasi plastik. Ia tertarik. Dua bedah kosmetik terbayang padanya. Yang satu penyempurnaan vagina atau vaginoplasty lainnya pembuangan lemak, dikenal sebagai sunction lipectomy — yang diikuti perataan kulit perut (abdominoplasty). Sri tentu tidak menyangka deretan operasi itu akan merenggut nyawanya, awal Februari lalu. Istri Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan ibu enam orang anak itu telah tiada, ketika kematiannya dihebohkan sebulan kemudian. Suaminya mengadu ke Kanwil Depkes dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Maka, Klinik Asih Trisna, tempat pembedahan berlangsung, segera diusut berbagai pihak. Yang paling akhir, polisi. Klinik di kawasan Pluit, Jakarta Utara, itu tampaknya memang penuh lika-liku. Subandi, sang suami, sebenarnya sudah berusaha mencegah, walau ia sadar istrinya punya problem menahun. Ketika melahirkan anak pertama, lubang faraj (vagina) Sri mengalami pengguntingan berat. Celakanya, cedera itu tidak dibenahi dengan baik. Akibatnya, ketika buang air, Sri senantiasa mengeluh. Ia merasa isi perutnya seperti mau keluar. Wajar bila ibu itu mendambakan pembenahan. Usaha itu pernah dicoba di Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Namun, operasi batal karena Sri mengalami shock pada proses pembiusan. Ia pingsan sampai 8 jam. Belakangan, harapannya timbul lagi, terutama sesudah konsultasi dengan dr. Trisyati Pohe dari Klinik Asih Trisna. “Istri saya pun ingin mencoba lagi,” ujar Subandi mengisahkan ihwal istrinya pada TEMPO. Subandi akhirnya mengalah. Belakangan ia cemas lagi. Hasil pemeriksaan praoperasi di RS Husada menunjukkan adanya gangguan pada paru-paru Sri. Ahli paru-paru yang memeriksa menyarankan supaya operasi dibatalkan sementara. Sri mendapat perawatan hingga gangguan paru-parunya hilang. Tapi kecemasan Subandi tidak hilang. Ia sekali lagi mencegah niat istrinya, tdpi Sri tak tergoyahkan. Tekadnya sudah bulat. Serangkaian pembedahan pun berlangsung, 3 Februari lalu. Semuanya dilaksanakan dalam satu hari. Mula-mula pembenahan lubang faraj, yang kemudian dilanjutkan dengan sunction lipectomy. Rentetan operasi selama 4 jam lebih, sebenarnya, cukup berat bagi seorang ibu berusia 57 tahun. Dan yang dicemaskan Subandi pun terjadi. Keesokan harinya, keadaan Sri jatuh ke krisis dan memburuk ketika dibawa ke Unit Perawatan Krisis RS Husada. Subandi dan anak-anaknya memburu ke rumah sakit. Suami yang panik itu menciumi istrinya yang sudah lunglai dan meraung, “Buat apa semua operasi ini, Ma, dan dulu juga saya tetap cinta.” Tetapi semuanya sudah kasip. Sri berpulang, Rabu 4 Februari pukul 23.30. Subandi menyesali seluruh proses bedah plastik istrinya — tentu. “Mengapa dokter tidak menjelaskan risiko ini pada saya, mengapa tidak meminta izin saya?” katanya sambil mengusap air mata. Keluhan itu pula yang diajukannya kepada IDI. Kendati dalam prosedur umum tak ada keharusan meminta izin operasi kepada suami, ahli bedah plastik RS Pirngadi Medan, dr. Buchari Kasim, menyatakan bahwa dalam bedah plastik, izin dan pendapat suami perlu diminta. “Semuanya harus mendapat penjelasan serinci mungkin, karena aspek psikologis sangat besar pada bedah plastik. Seorang suami bisa menganggap operasi itu pemalsuan, misalnya,” kata ahli bedah plastik lulusan Jerman Barat itu. “Saya akan menolak operasi bila suami tidak menunjukkan pendirian yang tegas.” Seberapa jauh terjadi malapraktek dalam operasi plastik Ny. Sri? Sejauh ini Kanwil Depkes DKI dan IDI cabang Jakarta belum mengumumkan pendapatnya.”Semuanya masih dalam proses, klta lihat saja nanti hasilnya,” kata dr. Soeharto Wiryowidagdo, Kakanwil Depkes DKI. Sementara itu, Ketua Umum IDI Pusat dr. Kartono Mohamad berpendapat, adalah ideal apabila diadakan otopsi. Walau tanpa otopsi Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) bisa langsung menentukan apakah kasus Ny. Sri merupakan malapraktek atau bukan, dengan bedah mayat akan jadi jelas letak kesalahannya. “Semakin cepat tindakan itu diambil semakin baik, karena bila kerusakan jenazah sudah lanjut, sulit melacak penyebab kematian,” katanya. Namun, Ketua IDI itu mengakui banyak hambatan untuk menggali kembali makam Almarhumah. Sementara itu, ahli bedah plastik senior dr. Sidik Setiamiharja menjelaskan, pengambilan lemak sunction lipectomy berikut pembenahan kulitnya termasuk operasi berat. “Pengambilan lemak itu menggunakan alat pengisap yang bertekanan 1 atmosfer, karena itu risikonya juga besar,” katanya. Apalagi bila operasi ini masih digabungkan dengan vaginoplasty . Pengambilan lemak, menurut Sidik, dilakukan dengan membuat sayatan di bawah perut sepanjang kira-kira 25 sentimeter dari pinggang kiri ke pinggang kanan. Kulit dibuka dan lemak dibuang. Setelah itu, kulit yang berlebih digunting dan sisanya ditarik, dijahit di lipatan paha dan di atas rambut kemaluan. Seraya memperlihatkan jurnal kedokteran Plastic and Reconstructive Surgery terbitan September 1986, Sidik menunjuk bahwa gabungan operasi kosmetik, khususnya pada wanita di atas 35 dengan berat 60-70 kilogram, harusnya dilakukan dengan sangat berhati-hati — berat Sri ketika menjalani operasi, 60 kilogram. Jurnal kedokteran itu memaparkan kasus-kasus yang menunjukkan adanya ancaman penyumbatan pada pembuluh paru-paru (pulmonary embolisma) yang tidak nyata, karena pada penderita sebelumnya tidak ditemukan gangguan paru-paru. Penyumbatan baru diketahui setelah otopsi dilakukan, terjadi pada pembuluh-pembuluh halus di bagian tepi paru-paru. Pada darah yang tersumbat ditemukan adanya gumpalan lemak. Studi klinis yang dilakukan dua ahli, Grazer dan Goldwyn menunjukkan enam dari 17 kematian operasi abdominoplasty — dari 10.490 kasus operasi — terjadi akibat pulmonary embolisma ini. Pada kasus Sri jelas: ia mengalami gangguan paru-paru sebelum operasi. Sementara ini sulit untuk menunjuk siapakah yang bersalah. Dua operasi Ny. Sri dilakukan atas nama dr. Hasnah Siregar (ahli kebidanan) dan dr. Kartadinata (ahli bedah). Namun, yang disebut-sebut ahli bedah plastik — belajar di Prancis dan Brasil — dan tampak lebih berperan adalah dr. Trisyati Pohe. Dengan dokter ini pula Sri berkonsultasi. Formalnya, dr. Trisyati adalah asisten Kartadinata. Inilah keanehan Klinik Asih Trisna yang mengundang tanda tanya. Adakah Trisyati cukup ahli di bidangnya, juga diragukan. Lulusan FK UI tahun 1971 ini tidak pernah menjalani spesialisasi bedah di UI. Kalaupun ia mendapat keahliannya di luar negeri, ia seharusnya menjalani adaptasi — spesialisasi singkat — untuk mendapat penyamaan ijazah. Peraturan ini berlaku di negara mana pun. “Nama itu tidak ada pada daftar spesialis yang melakukan adaptasi,” ujar Prof. Dr. Asri Rasyad, Dekan FK UI. “Hal itu harus cepat diselesaikan, yang salah, ya, harus disalahkan.” Apa tanggapan dr. Trisyati? Bersama dr. Kartadinata, ia memilih diam. “No comment, saya takut salah omong, kecuali hasil pemeriksaan Kanwil Depkes dan IDI sudah selesai,” ujarnya. Jim Supangkat, Laporan Agus Sigit (Jakarta) & Amir S.T. (Medan) Theo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s