Cara Kerja WiliLeaks dan Julian Assange

Julian dianggap sebagai hacktivist fenomenal. Mereka tidak punya kantor tetap dan terbiasa berkelana dan bekerja dimana saja. Moto mereka “We are everywhere, we are everyone, we are anonymous.”

Mereka adalah sekumpulan penderita skizofrenia paranoid.

Ketika para relawan Wikileaks bekerja mengedit dokumen rahasia AS dalam perang Irak, Assange menyewa sebuah rumah di Islandia. Negara itu dianggapnya aman karena dia memiliki banyak teman di sana. Juga, mereka menyamar sebagai jurnalis yang akan meliput letusan gunung berapi. Kebetulan, saat itu di bulan maret 2010, Islandia sedang diserang asap vulkanik letusan Gunung Eyjafjallajokull.

Assange tidak pernah menetap lama di suatu tempat. Saat berada di suatu kota, Assange biasanya tinggal di rumah temannya atau teman dari temannya. Tak jarang ia tinggal di bandara. Jumlah relawan yang membantunya bisa mencapai ribuan orang. dan relawan ini tidak saling kenal. Mereka berkomunikasi lewat chatting dalam bahasa enkripsi dan menggunakan identitas rahasi berupa inisial dan kode.

Sebelum mendirikan WikiLeaks, Assange sudah membangun jaringan relawan di Australia. Ia menyewa rumah dekat kampus University of Melbourne. Ia mempersilahkan para backpacker menginap di rumah ini. Syaratnya, mereka harus membantu Assange mengelola situs yang menjadi cikal-bakal WikiLeaks. Lewat cara ini, Assange merekrut para relawan.

Untuk menjaga server WikiLeaks dari serangan cyber musuh-musuhnya, Assange menerapkan sistem keamanan berlapis. Situs WikiLeaks menggunakan ISP Bahnhof di Swedia yang servernya disimpan di dalam bunker anti-nuklir sisa era perang dingin. Bunker ini dibangun di kedalaman 30 m di bawah permukaan cadas.

Dana operasional WikiLeaks sepenuhnya diperoleh dari donasi. Bahkan, setelah mempublikasikan video Collateral Murder, WikiLeaks mendapat donasi lebih dari US$200.000.

Dalam sehari, WikiLeaks menerima rata-rata beberapa puluh dokumen rahasia yang dikirim simpatisannya. Tapi, tidak semua data itu akurat.

“Digital adalah sebuah dunia berbeda. Yakni ketika anda duduk di rumah dengan seperangkat teknologi yang menjangkau banyak orang, mereka mampu menonton secara digital setiap hal yang anda lakukan” Theo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s